Pemimpin Harus Menjadi Learner, Teacher, Designer dan Servant

TASIKMALAYA-padjajaran-news.com : Seorang Pemimpin tidak selamanya harus menjadi guru atau orang yang memberi tahu di depan. Pemimpin juga perlu menjadi murid atau orang yang ingin mengetahui keadaan dari orang yang dipimpinnya dengan membuang perasaan gengsi.
Demikian dikatakan Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya, Taufiq Rohman saat memberikan materi kepada peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Racana (LDKR), Sabtu (27/10/2018).
“Pemimpin tidak boleh memaksakan kehendak sendiri, seolah dirinya paling benar terus menggurui padahal dia sendiri masih meraba-raba menjadi pemimpin,” ungkap Taufiq Rohman disambut tepuk tangan peserta.
Pemimpin harus menjadi learner, harus memainkan peran sebagai guru (teacher), perumus (designer), dan pelayan (servant). Seorang pemimpin harus berperan mengajarkan sesuatu, mengoreksi secara kontruktif.
“Dan pemimpin itu harus jadi teladan layaknya seorang guru, harus memberi gambaran, langkah dan menyelesaikan persoalan layaknya designer, dan perlu memposisikan diri sebagai pelayan (sarvent) itu baru pemimpin,” tuturnya.
Banyak pemimpin, lanjut Taufiq yang tidak disenangi masyarakat atau anggotanya karena karakter pribadinya yang menganggap posisi pemimpin adalah sarana untuk kekuasaan serta otoriter dan sewenang-wenang.
(Yud’N)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *